Gue pikir naik taksi bandara udah enak. Duduk manis, AC dingin, sopirnya kadang bisa diajak ngobrol, kadang diem aja—yang penting sampe tujuan. Udah. Standar. Nyaman.
Tapi minggu lalu, gue nekat nyoba yang katanya “masa depan transportasi” itu. Naik taksi bandara itu nyaman, tapi naik drone taxi itu… terrifyingly amazing. Seram tapi bikin nagih. Dan langit Jakarta? Ternyata lebih serem dari yang gue bayangin.
Ceritanya gue baru pulang dinas luar kota. Biasanya gue naik taksi online atau dijemput ojol. Tapi pas lagi nunggu bagasi, notifikasi masuk: “Selamat datang di Jakarta! Ingin pulang 10 menit lebih cepat? Coba layanan eVTOL pertama di Indonesia — Aerotak.”
eVTOL? Itu apa sih? Buat lo yang belum tahu, itu kependekan dari electric Vertical Take-Off and Landing. Intinya pesawat kecil bertenaga listrik yang bisa lepas landas kayak helikopter tapi terbangnya kayak pesawat. Atau lebih gampangnya: drone taxi. Iya, lo naik drone. Raksasa. Yang bisa bawa orang.
Penasaran? Iya dong. Apalagi tarifnya promo, cuma 2x lipat taksi biasa. Daripada macet 2 jam cuma buat ke Blok M, gue pikir, why not? Ini bakal jadi konten Instagram paling gila seumur hidup gue.
Dan gue naik. Dan ini yang terjadi.
1. Check-in Kayak Mau Naik Pesawat, Tapi Lebih Cepat
Stasiun terbangnya (mereka nyebut vertiport) ada di lahan parkir dekat bandara. Bentuknya kayak halte bus futuristik, tapi bundar, dengan baling-baling gede di atasnya. Setelah scan tiket, gue masuk ruang tunggu. Mirip ruang tunggu rumah sakit sih, bersih, dingin, adem. Bedanya, di luar kaca ada 5 drone taxi warna putih bersih, mirip mobil tanpa roda tapi dengan 8 baling-baling. Kayak kepik raksasa yang siap terbang.
Gue diterbantu pakein safety harness dan helm tipis. Petugasnya kalem, “Tenang Pak, ini lebih aman dari motor kok.” Gue cuma bisa mesem kecut. Iya, lo mah naik tiap hari, gue baru pertama.
2. Lepas Landas: Antara “WOW” dan “YA AMPUN”
Ini bagian yang paling gak bisa gue lupakan. Begitu pintu ketutup, mesinnya bunyi whiiirrrrrr kayak drone mainan, tapi versi 1000 kali lebih gede. Terus… kita angkat.
Gak ada sensasi goyang kayak naik helikopter. Lebih kayak naik lift super cepat tapi lembut. Dalam 20 detik, gue udah di ketinggian 200 meter. Dan pemandangan bandara di bawah makin kecil, lampu-lampu mulai keliatan.
Perasaan gue campur aduk. Antara “Gila keren banget gue bisa lihat Jakarta dari sini” dan “Ya ampun gimana kalo ini jatuh?”. Tangan gue mencengkeram pegangan kursi sampe putih.
- Data Fiktif Tapi Realistis: Menurut perusahaan operator, tingkat kecelakaan drone taxi ini 0.002% per 100.000 jam terbang. Bandingkan dengan motor yang… ya lo tau sendiri lah. Tapi tetep aja, otak primitif gue bilang, “Manusia gak seharusnya terbang tanpa sayap!”
3. Langit Jakarta: Lebih Seram dari Jalanan
Nah, ini yang gak disangka. Di darat, kita kenal macet. Di langit, ternyata ada jalur khusus juga. Dan itu… serem.
Gue bisa lihat dari atas, ada puluhan titik cahaya lain—drone taxi lain, drone pengiriman barang, bahkan drone polisi yang patroli. Mereka semua bergerak dalam jalur yang udah ditentukan, kayak arus lalu lintas vertikal. Tapi kadang ada yang melintas terlalu dekat. Di darat, kita bisa teriak “AWAS!”. Di langit? Lo cuma bisa diem, jantung copot, dan berharap sistem antisipasi tabrakannya jalan.
- Studi Kasus 1: Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada drone pengiriman paket yang nyalip dari samping kiri. Jaraknya mungkin cuma 10 meter. Gue bisa liat tulisan “JNE” di badannya. Gue refleks teriak “Buset!”. Pilot (atau lebih tepatnya operator jarak jauh) di speaker cuma bilang, “Tenang Pak, itu rute pengiriman, kita udah di jalur aman.” Gila, paket JNE aja sekarang pake drone. Mau dikirim ke mana sih?
4. Pemandangan yang Nggak Akan Lo Dapet dari Taksi Biasa
Setelah 5 menit pertama, rasa takut mulai berganti sama rasa takjub. Gue liat tol dalam kota dari atas. Macet parah. Lampu merah mobil-mobil keliatan kayak ular bercahaya yang merayap lambat. Dan di atas sana, gue melaju 120 km/jam, lurus aja tanpa hambatan.
Gue liat Monas dari ketinggian yang beda. Lihat gedung-gedung pencakar langit SCBD dari sudut pandang yang biasanya cuma bisa diliat pilot. Dan yang paling bikin merinding, gue liat langit Jakarta malam itu. Cerah. Bintang-bintang mulai keliatan, sesuatu yang jarang banget gue liat dari darat karena polusi cahaya.
- Studi Kasus 2: Temen gue, sebut saja Andi, juga nyoba rute siang hari. Katanya, dia bisa liat atap rumahnya sendiri di Pondok Indah. Ngelihat kolam renang di rumah tetangga yang berbentuk gitar. Privacy di perumahan elite kayaknya bakal jadi masalah baru nih.
5. Mendarat: Lebih Mulus dari Sopir Taksi
Setelah 12 menit terbang (bandingkan dengan 1,5 jam via darat), drone taxi mulai turun. Prosesnya lembut banget, lebih halus dari pesawat komersial. Begitu nyentuh landasan di vertiport Kuningan, gue baru sadar kalo napas gue nahan dari tadi.
Petugas buka pintu, bantu lepas helm. “Selamat datang di Kuningan, Pak. Semoga perjalanannya menyenangkan.” Gue cuma bisa manggut-manggut, kaki masih agak lemes. Gue baru aja terbang. Sendiri. Di atas Jakarta.
Tapi Jangan Kaget Kalau…
Pengalaman ini bikin gue sadar beberapa hal. Dan buat lo yang tertarik nyoba, ini dia yang harus lo waspadai:
- Bukan buat lo yang takut ketinggian. Obvious sih, tapi serius. Ini beda sama naik pesawat yang lo duduk di dalam “tabung” gede. Di drone taxi, jendelanya gede banget, lo bisa liat lurus ke bawah. Kalau lo takut ketinggian, siap-siap aja jantung copot.
- Cuaca bisa batalin penerbangan. Jakarta kan terkenal ujan dadakan. Angin kencang atau petir bisa bikin semua jadwal delay atau batal. Lo harus siap-siap punya rencana cadangan (baca: balik ke taksi biasa).
- Harganya masih premium. Promo emang ada, tapi tarif normal Jakarta-Bandung misalnya, masih sekitar Rp 1,5 juta. Buat sekarang, ini masih mainan orang kantoran atau turis asing. Tahun depan katanya mau turun 40% kalau udah produksi massal.
Common Mistakes yang Bakal Dilakuin Orang (Jangan Sampe Lo!)
Berdasarkan pengalaman gue dan baca-baca review orang, ini dia kesalahan fatal yang sering terjadi:
- Bawa Barang Banyak. Kapasitas bagasi drone taxi kecil. Maks cuma tas ransel atau koper kabin kecil. Koper gede? Lo titip aja pake kurir atau bawa mobil. Lo naik drone sendirian, koper lo nyusul via darat.
- Lupa Cas HP. Percaya deh, lo bakal moto dan video terus. Abisin baterai. Pas mau landing, HP lo bisa mati. Dan lo bakal nyesel karena momen epic itu gak keabadiain. Bawa power bank!
- Mabuk Udara. Iya, ada orang yang mabuk darat, ada juga yang mabuk udara. Gerakannya mulus, tapi tetap aja ada sensasi naik turun yang bisa bikin pusing buat sebagian orang. Saran gue, jangan makan berat sebelum terbang.
- Pilih Rute yang Salah. Buat pertama kali, jangan langsung ambil rute Jakarta-Bandung yang 40 menit. Coba rute pendek dulu kayak Bandara-Kuningan (10-15 menit). Biar badan adaptasi.
Practical Tips Buat Lo yang Mau Nyoba Drone Taxi
Oke, lo udah yakin pengen nyobain. Ini gue kasih tips dari pengalaman pahit manis:
- Pilih Waktu yang Tepat. Golden hour (pas matahari terbit atau tenggelam) itu paling epic buat terbang. Pemandangannya gila bagus. Tapi inget, jam segitu juga paling banyak peminatnya, jadi booking jauh-jauh hari.
- Pake Baju yang Nyaman. Ini penting. Lo bakal dipasangin harness kayak orang mau main flying fox. Rok atau baju ketat bakal bikin lo nggak nyaman. Pake celana panjang dan sepatu tertutup aja.
- Dengerin Instruksi. Petugasnya bakal kasih briefing singkat. Dengerin bener. Soal apa yang harus dilakukan kalau darurat, cara pake helm, dst. Jangan sok tahu.
- Nikmatin, Bukan Cuma Motret. Iya, foto itu penting buat konten. Tapi jangan sampe lo lupa buat merasakan pengalamannya. Tarik napas, liat ke bawah, liat ke langit. Rasain angin (walaupun di dalam ber-AC). Ini momen yang nggak akan lo ulang dengan cara yang sama.
Kesimpulan: Antara Teror dan Keindahan
Jadi, naik taksi bandara itu nyaman, tapi naik drone taxi itu terrifyingly amazing. Gue awalnya pikir ini cuma gimmick buat orang kaya. Tapi setelah ngalamin sendiri, gue ngerti potensinya. Ini bukan cuma transportasi. Ini pengalaman. Ini cara baru buat ngeliat kota yang selama ini kita lewatin tiap hari dengan cara yang beda.
Langit Jakarta emang seram. Tapi di balik keseraman itu, ada keindahan yang nggak bakal lo dapet di kemacetan tol dalam kota. Lo naik? Atau lo milih tetep di darat sambil ngumpat-ngumpat liat supir busway nyerempet? Pilihan ada di lo.
Tapi gue udah tau jawaban gue. Gue bakal naik lagi. Mungkin bulan depan.
